Minggu, 24 Februari 2013

Sejuta Cinta Buat Papah



"tulisan siswa SDIT DU Mico Naufal pratama" editing by : ovi sofwilwidad

Ayah, aku biasa memanggilny dengan sebutan ‘papah’ lelaki yang dengan setia menemani wanita tercantik dirumahku. Ialah ibuku yang aku panggil dengan sebutan mamah. Papah tak pernah mengeluh walaupun betapa nakalnya aku. Papah selalu melibatkan aku dalam setiap diskusi-diskusinya. Ia bukan sekedar seorang ayah yang baik tetapi ialah sahabat yang selalu ada saat aku lemah dan tiada berdaya. Papah bukanlah seorang pejabat gedung tinggi yang berdasi ataupun bermobil mewah, papah hanya seorang pegawai bank swasta biasa. Sosoknya sederhana yang selalu memukau. Menambah kecintaan mamah terhadapnya. Dialah matahariku yang selalu menebarkan sinar-sinarnya ke bumi. Membawa manfaat buat aku dan mamah. Karena mamah dan aku adalah bumi yang mengharapkan sinar matahari itu.  
Setiap jengkal perjalananku tak luput dari bimbingannya, nasehat-nasehatnya, canda tawanya. Dan sejuta cerita tentangnya berkumpul selalu dalam memoriku. Memori yang tak pernah aku hapus hingga ujung waktuku. Terkadang papah terlihat menjengkelkan, saat ia harus pulang larut malam, saat aku harus menunggu jejak kakinya menapaki beranda rumah dan meninggalkan kerinduanku yang amat terdalam dari pagi hingga lepas malam.
Memoriku semakin bekerja hebat. Terkenang saat beberapa kali ayah menjadi super heroku dirumah. Entah tangannya terbuat dari apa? Bukan baja, bukan pula elektromagnetik seperti robot milikku di kamar. Kata mamah, papah itu seperti Mc Gyver. Tak ada hal yang tak bisa papah lakukan.
Papahku memang hebat, orangnya baik rendah hati , kalo sama aku papahku selalu cerewet.Aku tidak marah kalo papah lagi cerewet atau marah padaku. Ternyata papahku itu sayang, dia kasih tau yang benar.Aku tetap sayang sama papah, walau lagi marah, mungkkin papah ingin aku membuat kebaikan, papah ingin aku menolong orang yang susah, membantu yang sedang kesulitan.
Pagi itu rasanya ingin sekali kumandikan sepeda kesukaanku. Karena habis berperang melawan banjir didekat rumah, sepedaku harus berselimuti lumpur yang menjijikan. Aku bergegas mengambil selang pipa air yang tergulung dibawah meja dapur. Dengan sigap tanganku merentangkan selang panjang tersebut dari pipa air ditaman hingga depan gerbang rumah tempat sepedaku diletakkan. Pagi yang cerah dengan sinar mentari yang indah seketika berubah menjadi matahari yang panas luar biasa. Entah mengapa seakan cuaca berubah menjadi gerah. Aku panik bukan kepayang, tanganku sibuk memencet-mencet selang air yang ujungnya berbentuk serupa tembakan mainan. Tak ada air sedikit pun yang keluar dari ujung lubangnya. Keringatku bercucuran. Aku takut, yah takut disalahkan kalau selang ini rusak. Karena selang ini terlanjur ada digenggamanku. Aku berusaha mencari cara agar airnya keluar. Tapi tetap saja tidak keluar. Hingga aku buka selang yang menggantung pada kucuran air. Aku menepuk-nepuk berharap air akan jatuh ke tanah, memutar-mutar kepala kran hingga kabar baik pun tak datang dari air yang  seharusnya keluar dari kran tersebut.  
“Mico, kenapa dengan selangnya?” tanya papah semenit kemudian.
“gak tau pah, kok airnya gak nyalah?!”. Tanyaku berbalik kepada papah. Dengan tenang papah memeriksa ujung lubang kran air itu. Wajahku pucat pasi sesaat, karena takut kerusakan ini disebabkan oleh kecerobohanku sendiri tanpa aku ketahui. Kemudian papah menyalahkan aku.
“Oh tuhan menit yang seakan tak bersahabat denganku kali ini” gumamku dalam hati.
            papah sejenak berdiri, dan memegang tubuhku. Aku gemetar papah marah.
“Mico kenapa gemetar?” tanya papah
“bukan Mico yang salah pah, Mico mau bersihin sepeda tapi airnya gak keluar”. Seruku ketakutan. Wajah papah berubah menjadi wajah malaikat pembawa kabar baik. Tiba-tiba saja aku tak melihat rasa kesal sedikit pun pada wajahnya. Ia kembali melempar senyum padaku yang masih dilingkari kebingungan.
“papah gak marah?” tanyaku
“kenapa harus marah, kan bukan Mico yang merusaknya.”
“tapi kan, ini Mico yang megang”
“memang kalau yang megang, dia yang harus disalahkan?” tanya papah padaku yang masih terlihat kebingungan
“jadi papah gak marah?”. Tanyaku kembali. Papah hanya membalas pertanyaanku dengan senyum dan mengacak-acak rambutku seperti biasa kita bercanda.
“anak papah yang jagoan, kalau kamu tidak salah, kenapa kamu harus takut?” nasehat papah kepadaku hari itu.
“lalu bagaimana dengan keran ini?”tanyaku kembali
“mengapa kita tidak perbaiki saja bersama, kan keran ini bukan hanya Mico yang gunakan, tapi papah dan juga mamah”.
            Kepanikanku berubah menjadi senyuman. Aku peluk tubuh papah serasa tak ingin jauh dari raganya. Aku melihat wajah mamah tersenyum dan mengintip dibalik jendela. Ia mengacungkan jempol kepada aku dan papah. Masih dalam pelukan papah, Aku bisikan seucap kata di telinganya
“I love u dady. You are my everything without you Iam nothing”
                                                                                          ***
hai sobat, namaku Mico Noufal Pratama. Aku masih duduk dikelas 3 SD. Tepatnya di SDIT Darojaatul’uluum. Hobiku main bola.aku bercita-cita menjadi pemain bola seperti messi.  Jika teman-teman ingin silaturahmi denganku bisa melalui akun FB ku di Mico Agen Rahasia. Atau di www.blognyamico.blogspot.com. Tulisan ini adalah tulisan pertamaku yang akan dibukukan oleh penerbit harfeey

Rabu, 20 Februari 2013

Benda Aneh Yang Jatuh Dari Langit


Benda aneh yang jatuh dari langit
Dipersembahkan oleh : miko naufal p.

Pada suatu hari ada seorang anak yang ingin berkamah di hutan bersama teman teman – temannya . nama anak itu adalah diego . sekarang diego mulai berangkat ke hutan . pertama – tama ia senang berkemah di hutan . entah kenapa diego lemas dan gemeteran saat mau memasuki hutan . diego bilang ke teman – temannya . hai kawan kita pulang saja yuk tiba- tiba tubuhku lemas . temannya pun menjawab . kalau kita pulang perjalanannya jauh lagi . diego menjawab . ya sudahlah ayo kita masuk ke hutan . 

Tidak lama kemudian tubuh diego semakin lemas . diego juga melihat ada bayangan menyeramkan di belakang diego . bayangan itu mengikuti diego . tidak lama kemudian bayangan itu menghilang . diego dan teman – temannya mencari tempat untuk beristirahat . tidak lama kemudian diego dan teman – temannya tidur saat matahari terbenam . setelah malam surut diego pun ingin pipis . diego pun mencari sungai untuk pipis . diego melihat ada benda jatuh dari langit . benda itu seperti batu yang terkena darah . diego pun mulai ketakutan . diego pun bilang begini . jangan – jangan disini ada setan , ka ka ka kabur !!! . ia pun lari ke tenda kemah . diego pun membangunkan seluruh teman – temannya . bangun bangun diluar ada benda yang jatuh dari langit , benda itu seperti batu yang terkena darah . teman – temannya tertawa . hahahaha . kenapa kalian tertawa Tanya si diego sambil ke bingungan ? . itu bukan batu yang terkena darah . trus tadi itu apa ? . itu batu yang ku warnai merah dan ku lempar ke sungai untuk menakut nakuti kamu . diego pun menjawab . oh gitu , ya sudah aku ngantuk pengen tidur . temannya menjawab . oke teman baik ku . tamat .